A. Pengetahuan
dan Kepentingan
Ilmu merupakan sebuah hakikat yang tidak
akan terlepas dari manusia, sifat manusia yang ingin selalu tahu, heran, kagum,
dan selalu ingin menjadi yang terbaik, mendorong manusia untuk mencari
jawaban-jawaban atas realitas kehidupan. Sehingga ilmu dan kehidupan dapat di ibaratkan
sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, karena pada awalnya
ilmu merupakan sebuah upaya untuk menjawab realitas kehidupan.
Namun saat ini terjadi dikotomi yang
mendalam antara ilmu dan kehidupan manusia (kepentingan), khususnya setelah
filsafat positivisme Comte diterima secara umum oleh madzhab ilmu pengetahuan
diseluru dunia. Ilmu pengetahuan dituntut untuk melepaskan diri dari kepentingan
kepentingan-kepentingan yang terselubung dalam ilmu pengetahuan, pengetahuan harus
membangun free value dalam mencari ilmu pengetahuan. Pemisahan ilmu dari
kepentingan ini menimbulkan dampak positif maupun negatif, disatu pihak ilmu
menjadi sesuatu yang suci dari segala kepentingan-kepentingan namun, disatu
sisi lain ilmu pengetahuan menjadi tanpa makna yang cenderung kurang berpihak
kepada kemaslahatan bersama. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan dan kepentingan
merupakan sesuatu yang harus diintegrasikan kembali sebagaimana ilmu di abad-abad
klasik.
B. Tokoh Yang Membahas Ilmu Pengetahuan Dan
Kepentingan
·
Immanuel
Kant
Immanuel Kant berpendapat bahwa ilmu
pengetahuan diperoleh dari sintesa apriori dan aposteriori, dimana dalam
memperoleh pengetahuan yang rasional setidaknya rasio manusia menempuh tiga
tahap refleksi. Pertama tahap pengetahuan indrawi yang terdiri dari unsur
apriori dan aposteriori, dala hal ini apriori berkaitan dengan ruang dan waktu,
aposteriorinya berupa kenyataan yang dapat diketahui. Tahap kedua, tahap akal
budi dimana merupakan orde data indrawi yang telah dikenali pada tahap indrawi.
Tahap ketiga adalah tahap rasio, tahap ini merupakan pengetahuan teoretisi
murni yang berlandaskan argument-argumen.
·
Hegel
Hegel mengkritik kant, menurut hegel
kesadaran kritis atau subjek pengetahuan tidaklah seba jadi melainkan merupakan
sebuah proses pembentukan. Pendekatan pengetahuan hegel tidaklah trasendental,
melainkan sebuah pendekatan yang fenomenologis, sebagaimana konsep roh absolute
hegel dalam filsafat sejarahnya.
·
Marx
Marx berasumsi bahwa pengetahuan
bukanlah idealisme yang metafisik tetapi merupakan suatu material yang
kongkrit. Menurut marx pengetahuan merupakan proses material yang terjadi pada
manusia yang kongkrit, dimana proses material ini adalah aktivitas manusia atau
kerja.
·
Comte
dan Mach
Comte dan Mach menggagas positivisme
sebagai landasan dalam ilmu pengetahuan, Comte mengahiri refleksi subjek atas
pengetahuannya dengan penyelidikan atas metodologi dan prosedur ilmu
pengetahuan. Comte menganggap penyelidikan filosofis tidak akan kunjung selesai
dan merupakan perbuatan yang sia-sia, seperti yang dilakukan metafisika.
C.
Ilmu
Dan Kepentingan
o Kepentingan
ilmu teknis empiris-analitis
Kepentingan teknis dalam ilmu
pengetahuan ini setidaknya diambil dari dua hal yaitu penguraian logika
penelitian peirce dan menguraikan refleksi diri ilmu-ilmu alam. Dalam pandangan
peirce penelitian ilmiah tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan kongkret sehari-hari
karena kegiatan ilmiah merupakan satu kegiatan hidup itu sendiri.
Menurut habermas pendapat Pierce
merupakan sistem tindakan instrumental, yang kemudian habermas mengkonsepkan 3
hal sebagai penguasaan atas kondisi eksternal manusia. Dimana tidakan tersebut
dilaksanakan dalam rangka belajar yang bersifat kumulatif. Pertama kita
memisahkan proses belajar dari proses kehidupan biasa, agar dapat mengkontrol
objek secara selektif. Kedua, ketepatan dapat dijamin dan diperoleh suatu
kebenaran ynag dapat dipercaya secara intersubjektif. Ketiga, mensistematisasi
system pengetahuan kedalam suatu teori.
Dalam hal ini kepentingan kognitif
menurut habermas mengarahkan penelitian ilmu-ilmu alam bersangkutan dengan
menguasai alam secara teknis. Dalam bukunya knowledge and human interest
habermas mengatakan bahwa ‘kita berbicara tentang sesuatu “kepentingan
konstitusi pengetahuan kedalam penguasaan teknis yang mungkin’, yang menentukan
jalannya objektifvasi kenyataan sebagai sesuatu yang niscaya dalam rangka kerja
yang trasedental dari proses penelitian. Artinya kepentingan teknis merupakan
dasar dari ilmu alam, menurut habermas konsensus tidak dapat dicapai dengan
logika penelitian namun taraf yang melampaui logika penelitian yaitu komunikasi
antar peneliti.
o
Kepentingan
praktis ilmu-ilmu historis-hermeneutis
Dalam kepentingan hitoris-hermeunitis
ini akan dibahas dua hal yaitu membahas hubungan anatara peneliti dan objek
yang penelitian dan metodelogi dalam penelitian itu sendiri. Dalam segi
epistimologi terdapat perbedaan antara ilmu alam dan ilmu budaya, diaman
Perbedaan epistimologi ilmu alam dan ilmu budaya terletak pada hubungan subjek
dan objek yang diteliti. Dalam ilmu alam hubungan peneliti dan objek yang
diteliti berjarak sedangkan pada ilmu budaya tidak.
Karena sikap subjek terhadap objeknya
berbeda, maka metode kedua ilmu pengetahuan itupun berbeda. Metode ilmu alam
cenderung menggunakan metode erklaren (menjelaskan) sedangkan ilmu budaya
verstehen (mengerti). Earklaren berarti menjelaskan suatu menurut penyebabnya
sedangkan metode verstehen lebih cenderung menemukan makna dari produk
manusiawi seperti sejarah, masyrakat, interaksi dan sebagainya. Habermas
menjelaskan bagaimana hermeunetis ini memahami makna atas produk budaya dimana
konteks konkret kehidupan dapat diungkap melalui ekspresi kehidupan yang
terdiri dari tiga macam yaitu linguistik, tindakan dan ekspresi pengalaman.
o
Kepentingan
emansipatoris ilmu-ilmu kritis
Pembedaan yang dilakukan oleh kant,
antara rasio murni dan rasio praktis menghadapi kebuntuaanya ketika akan
menjadikan rasio murni tersebut menjadi praktis. kant mengalami kesulitan dalam
menjawab pertanyaan ini. Menurut habermas, untuk menjawab pertanyaan itu,
diperlukan suatu konsep tentang kepentingan yang tidak empiris tetapi tidak
juga sepenuhnya terpisah dari pengalaman. Kepentingan yang dimaksud oleh
habermas di sini adalah konstitutif pengetahuan.
Jika dengan rasio teoritis atau murni
kita ingin menjawab pertanyaan apakah yang dapat saya ketahui?, dan dengan
rasio praktis murni kita ingin kita menjawab pertanyaan apakah yang dapat saya
lakukan?, maka pengetahuan kritis yang didorong oleh kepentingan kognitif itu
ingin mejawab apakah yang dapat saya harapkan?
Pertanyaan pertama yang menuntut jawaban
teoritis dan spekulatif ini terlakasana dalam ilmu pengetahuan. Pertanyaan
kedua yang menuntut jawaban praktis dan ini terlaksana dalam etika.
Tetapi menurut habermas, pertanyaan
ketiga menuntut jawaban yang bersifat praktis sekaligus teoritis dan di sinilah
rasio murni berkaitan dengan rasio praktis. Lebi lanjut, habermas menjelaskan,
jika kant memandang kepentingan praktis ini sebagai hasil rasio murni yang
telah menjadi praktis, fichte memandangnya sebagai tindakan rasio sendiri. Rasio
spekulatif dan rasio praktis identik dalam satu kegiatan kognitif. Kegiatan
kognitif yang dimaksud adalah refleksi diri. Refleksi diri sebagai kunci
habermas, dalam refleksi diri, ego menjadi transparan terhadap dirinya sendiri
dan terhadap asal usul kesadaranya sendiri. Dalam kegiatan refleksi, kita,
sebagai ego, tidak hanya memiliki kesadaran baru tentang diri kita sendiri,
melainkan juga bahwa kesadaran baru itu mengubah hidup eksistensial kita
sendiri. Tindakan mengubah hidup itu adalah tindakan emansipatoris. Karena
dalam refleksi diri, kesadaran dan tindakan emansipatoris itu menyatu, maka
dalam kegiatan refleksi, rasio kita langsung menjadi praktis.