4/10/2018

The Djail Band "Sebuah Nama Sebuah Kisah"




"Foto The Djail Band yang menjadi Legend of SMPN 1 Blega (SPENSAGA) yang berilustrasi background konser" 
dari kiri ke kanan, Topiek (Melody), Totok alias NpM (Vokalis), Adit (Drummer), Uza (Vokalis), Ocen (Bassis), 
dan Faice (Rhytem).

Remaja yang muda yang menginspirasi, mungkin hal itu cocok untuk sebuah inspirasi kisah dalam kisah ini. Semua bermula pada tahun 2009 yang silam, saat enam remaja asal SMP Negeri 1 Blega Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan yakni Moh. Taufik alias Topiek, Ismail alias Faice, Aditya Kurniawan alias Adit, Moh. Hosen alias Ocen. Uzair Haidzir alias Uza, dan Noer Panca Mutawwab alias Totok alias NpM menempati kelas yang sama yakni kelas 9-D atau Land3 yang katanya sih "Best Class" di jamannya.
Mereka memiliki karakter yang berbeda, dimana si Topiek berkarakter keras tapi berhati lembut buktinya dia selalu menawan bagi siswi cewek kala itu, si Faice (Adik Topiek dan adik kandung asli dibuktikan dengan Kartu Keluarga) yang berkarakter dingin dan slalu mencuri perhatian pengagumnya, lanjut si Adit, dia berkarakter gokil dan selalu bikin hidup suasana karena suka bikin orang ketawa, kemudian si Ocen yang humoris dan slalu menghibur apalagi kalo sudah di suruh bercerita selalu ada adegan praktek dan ekspresi lebay nya yang bikin pendengarnya ngakak. Lanjut si Uza, nah remaja yang satu ini berkarakter lembut, cool dan romantis karena sekali mata melirik selalu bikin siswi-siswi klepek-klepek akan puisi, syair, dan rayuannya. Dan lanjut yang terakhir si Totok (jangan ditanya julukan ini dari mana, keluarganya saja bingung siapa awal mula yang manggil nama itu), dia berkarakter pendiam dan jaim tapi bagi mereka yang hanya mengenal luarnya saja. Karena bagi teman-teman yang sudah terbiasa dan sehari-hari ngumpul bareng si Totok alias NpM ini, pasti akan menjawab kalo dia ini busuk, karena tingkah ulah kejailan dan candaan serta keonaran di dalam kelas slalu berawal dari bisikannya dan karena itulah dia di juluki si "Provokator". 
Sering berkumpulnya mereka, membuat mereka semakin akrab satu sama lain apalagi mereka sering satu kelas sejak kelas 7. Kala itu Sekolah mereka mengadakan hiburan setelah ujian selesai dengan menyediakan panggung untuk menghibur peserta kegiatan classmeeting. Karena setiap kelas banyak yang menampilkan maka si enam sekawan tersebut mencoba memberanikan diri untuk tampil mewakili kelasnya. mereka yang sejak SD memang sudah mahir bermain alat musik tanpa ragu menaiki panggung, kecuali si Totok karena dia belum bisa alat musik apa-apa sehingga dia mengisi vokalis meskipun suaranya nggak bagus bagus amat hanya sebagai pelengkap dan menemani si Uza yang juga vokalis. Kemudian formasi lainnya Topiek menjadi melody, Ocen Bassis, Faice Rhytem, dan Adit Drummer. Penampilan perdana mereka tanpa ada latihan, dan secara spontanitas mereka membawakan lagu Jauh Mimpiku dari Band Peterpan. Dan aksi mereka pun memukau di acara tersebut.
Memukaunya penampilan mereka membuat mereka diberi kesempatan untuk tampil di Pentas Seni sekolah yang turut mengundang penampilan dari band SMPN 1 Konang, SMPN 1 Modung, dan SMPN 1 Galis yang masih area Kabupaten Bangkalan. Sebelum hari pelaksanaan, ke enam sekawan ini pun berlatih dalam ekstra musik sekolah (awalnya mereka tidak ada yang ikut ekstra karena arahan si Topiek untuk jangan ikut) dan saat latihan pun kena omelan guru latih musik kala itu karena meraka tidak kosnsisten dan bergonta ganti formasi dalam memegang alat musik. Akhirnya pun formasi mereka di tetapkan Totok dan Uza (vakalis), Topiek (Melody), Ocen (Bassis), Faice (Rhytem), dan Adit (Drummer).
Menjelang Pensi pun mereka masih belum memiliki nama untuk band mereka, dan akhirnya si Topiek mengusulkan nama Djail Band karena terinspirasi teman nongkrong saat itu Djailani alias Jail dan Bahari yang selalu jadi senior saat mereka berkumpul dan bermain musik. Dan kemudian si Totok menambahkan alasan Djail (jail) juga cocok karena tingkah mereka yang sering jail, iseng, konyol. Dan sehari sebelum pensi itu diresmikan nama band mereka menjadi The Djail Band. Saat Pensi pun penampilan mereka kembali memukau penonton dengan lagu Cinta Sampai Disini (D'Masiv) dan Bintang Di Surga (Peterpan). Dan Sejak itu nama The Jail Band dan khususnya personilnya menjadi hal yang tak terlupakan dan bahkan menjadi legend di SMPN 1 Blega.

Read More ->>

5/26/2014

KRITIK ATAS TEORI KARL MARX (TEORI NEO MARXIAN)



A.    Determinasi ekonomi
Gagasan Marx mengenai konsep meterialisme sejarah yang mengabsenkan pentingnya sebuah gagasan dan kontribusinya pada sejarah. Disebut juga sebagai materialis karena sejarah dianggap ditentukan oleh syarat-syarat produksi material, materialisme disini bukan dalam arti filosofis, sebagai kepercayaan bahwasanya realita adalah materi, melainkan menunjuk pada hal yang menentukan sejarah. Dan jawabannya adalah keadaan material=ekonomi, bukan pada pikiran dan gagasan. Material yang ditekankan adalah produksi kebutuhan material manusia, cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkan manusia untuk hidup. Sikap material dari Marx juga menunjukkan bahwa Marx memahami semua kepentingan hanya sebagai yang ekonomis saja, entah langsung entah tidak langsung, ia memandang kekuasaan politik hanya menhadi kepentingan sebagai fungsi kekuasaan ekonomis. Marx dalam perspektifnya menyatakan bukan cita-cita kebebasan yang menjadi kekuatan dalam sejarah modern tetapi kebutuhan kelas kapitalis akan tersedianya buruh saat dibutuhkan dan lingkungan atau kondisi-kondisi yang berada disekitar dimana memungkinkan terlaksananya ide tersebut, kelangsungan dan tentunya dampak dari ide tersebut yang akan membaur dengan lingkungan tersebut.
Determinasi ekonomi adalah dimana hal-hal yang bersifat mendasar (basis) seperti bentuk modal, alat-alat produksi, dan kekuatan-kekuatan modal lainnya yang mempengaruhi sejarah, bukan kehidupan sosial seperti agama, politik, filsafat, seni, bahkan negara (suprastruktur) lah yang mempengaruhi dan membuat sejarah.
Marx memandang segala perubahan politis adalah hal-hal yang berkaitan dengan produksi kemajuannya dimana tujuan dari sejarah adalah kemajuan dalam perbaikan hidup manusia yang hanya bisa dilakukan di tahapan duniawi. Istilah “basis” dalam beberapa literature disebut sebagai “infrastuktur” dengan ciri-ciri basis adalah pertentanga antara kelas-kelas atas dan kelas-kelas bawah. Sedangkan “suprastruktur” juga disebut “bangunan atas” dengan ciricirinya adalah yang mengatur kehidupan masyarakat diluar hal-hal keproduksian, termasuk norma, agama, kesehatan, sistem pendidikan, lalu lintas, dll.
Marx menemukan hukum yang mengatur perkembangan masyarakat dan sejarah yaitu ekonomi. Ekonomi adalah hal yang mndasar bagi pandangan sejarah materialistiknya. Dan inilah yang menjadikannya sebagai pemikir sosialisme ilmiah, sosialisme yang tidak berdasarkan harapan atau keingan khayalan belaka, semuanya serba benda dan berdasarkan kepada analisis ilmiah terhadap perkembangan kehidupan hukum masyarakat. Ia merumuskan bidang ekonomi menentukan aspek politik dan pemikiran manusia, meski factor ekonomi sendiri ditentukan oleh konflik antara golongan pekerja dan pemilik modal yang konflik tersebut dipertajam oleh inovasi di bidang teknik produksi. Pertentangan tersebut juga akhirnya akan meledak dalam sebuah revolusi yang akan mengubah struktur dan kekuaaan di bidang ekonomi, kenegaraan, dan gaya berfikir manusia.
Marx juga mengatakan bahwa sistem kapitalis akan runtuh setelah terjadinya revolusi. Revolusi yang akan memecah kelas-kelas menjadi saling bertentangan dan menghasilkan masyarakat sosialis karena berhasil menghilangkan kelas dalam masyarakat.
B.     Marxime Hegelian
Akibat dari kritik dan kecaman, determinasi ekonomi mulai pudar arti pentingnya, dan sejumlah teoritisi mengembangkan ragam lain dari teori Marxian. Sekelompok Marxis kembali lagi pada akar-akar Hegelian Marxis awal pada level objektif dan material. Marxis Hegelian awal berusaha mengembalikan dialektika antara aspek subjekif dan aspek objektif kehidupan social. Refikasi. Sejak awal lukacs menjelaskan bahwa ia tidak sepenuhnya menolak karya Maxis ekonomo tentang reifikasi, namun sekedar berusaha memperluas dan menguraikan lagi gagasangagasan mereka.
Kelas dan Kesadaran Palsu. Kesadaran Kelas merujuk pada system kepercayaan yang dimiliki bersama oleh mereka yang menempati posisi kelas yang sama dalam masyarakat. Lukacs menjelaskan bahwa kesadaran kelas bukanlah jumlah atau Rata-rata kesadaran individu; dia menjadi milik sekelompok orang yang memiliki tempat serupa dalam sebuah system produksi. Pandangan ini mengarah pada focus kesederhanaan kelas borjuasi dan khususnya proletariat. Dalam karya Lukacs, terdapat kaitan jelas antara posisi ekonomi objektif, kesadaran kelas dan pemikiran manusia yang rill dan Psikologis tentang kehidupan mereka (1992/1968: 51).

C.    Teori kritis
Teori kritis adalah produk dari sekelompok neo-Marxis jerman yang tidak puas dengan kondisi teori Marxian (Bernstein, 1995; Kellner, 1993; untuk pandangan yang lebih luas tentang teori kritis, baca Agger, 1998), khususnya kecenderungan teori ini kearah determinisme ekonomi.
Kritik atas Teori Marxian. Teori kritis menjadikan teori-teori Marxian sebagai pijakan awal kritiknya. Para teori kritis begitu terusik oleh para determiis ekonomi-para Marxis mekanistis, atau mekanis (Antonio, 1981; Schroyer, 1973; Sewart, 1978). Kritik Positivisme. Teoretisi kritis juga memusatkan perhatian pada dukungan filosofis terhadap penelitian ilmiah, khususnya yang beraliran positivism (Bottomore, 1984; Halfpenny, 2001; Morrow, 1994). Kritik atas positivisme, paling tidak sebagian, terkait dengan kritik atas determinisme ekonomi, karena beberapa orang yang menganut paham determinis menerima sebagian atau keseluruhan teori pengetahuan positivistik.
D.    Sosiologi ekonomi neo Marxian
Pemikir neo Marxian (misalnya teoritisi kritis) tak banyak membahas lembaga ekonomi, sekurangnya sebagai reaksi terhadap ekses pemikiran pemikir determinisme ekonomi. Namun reaksi itu dengan sendirinya telah menggerakkan serentetan reaksi balik. Bagian ini akan menjelaskan pemikiran beberapa pemikir Marxis yang kembali memusatkan perhatian pada bidang ekonomi. Pemikiran mereka tak semata ulangan teori Marxian awal. Pemikiran mereka merupakan upaya menyesuaikan teori Marxian dengan realitas masyarakat kapitalis modern. Di bagian ini akan dibahas dua kelompok karya. Pertama berfokus pada isu modal dan tenaga kerja secara luas. Yang kedua adalah karya kontemporer yang lebih sempit, tentang transisi dari Fordisme ke post-Fordisme.
Modal dan Tenaga Kerja
Pemahaman asli Marx tentang struktur dan proses ekonomi, didasarkan atas hasil  analisisnya tentang kapitalisme di zamannya (pertengahan abad 20) yang dapat kita bayangkan sebagai kapitalisme kompetitif. Industri kapitalis relatif tergolong kecil. Akibatnya tak ada industri tunggal atau sekelompok kecil industri yang dapat mengendalikan pasar sepenuhnya dan tanpa persaingan. Kebanyakan pemikiran ekonomi Marx didasarkan atas premis (yang memang akurat di zamannya) bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem kompetitif.
Monopoli modal
Dalam konteks inilah kita harus memeriksa karya Paul Baran dan Sweezy (1966). Kedua pemikir ini memulai dengan mengkritik ilmu social Marxian karena mengulangi rumusan yang sudah lazim dan karena gagal menerangkan  perkembangan penting terakhir yang terjadi di dalam masyarakat kapitalis. Mereka menuduh teori Marxian mengalami stagnasi karena teori itu terus bersandar pada asumsi ekonomi kompetitif. Menurut mereka teori Marxian modern mestinya menyadari bahwa kapitalisme persaingan sebagian besar telah digantikan oleh kapitalisme monopoli.
Kapitalisme monopoli dalam satu hal berarti pengendalian satu atau sedikit kapitalis terhadap sektor ekonomi tertentu. Jelas dalam kapitalisme monopoli kompetisi jauh lebih sedikit ketimbang dalam kapitalisme kompetitif. Dalam kapitalisme kompetitif organisasi usaha bersaing atas dasar harga; artinya kapitalis berupaya menjual barang lebih banyak dengan menawarkan harga lebih rendah. Dalam kapitalisme monopoli perusahaan tak lagi bersaing dengan cara seperti itu karena satu atau beberapa perusahaan mengendalikan pasar; kompetisi bergeser ke bidang penjualan. Periklanan, pengemasan, dan metode lain yang bertujuan menarik minat kosumen potensial adalah bidang utama kompetisi.
Tenaga Kerja dan Monopoli Modal.
Untuk mengembangkan analisis Marx, Braverman menyatakan bahwa konsep “kelas buruh” tidak mendeskripsikan sekelompok orang atau kelompok tertentu, tetapi lebih merupakan sebuah pernyataan tentang proses pembelian dan penjualan tenaga kerja. Dilihat dari proses itu, Braverman bahwa dalam kapitalisme modern sebenarnya tak seorang pun di antara tenaga kerja itu memiliki alat produksi; karena itu segolongan besar orang pekerja kantoran dan pelayan terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada segolongan kecil yang memiliki alat produksi. Menurut Braverman, pengendalian dan eksploitasi kapitalis maupun proses yang berasal dari mekanisasi dan rasionalisasi diperluas ke pekerja kantoran dan pelayan meski dampaknya belum sebesar yang dialami oleh buruh kasar.
E.     Marxisme yang berorientasi historis
Pemikir Marxis yang berorientasi ke riset historis mengaku sebagai Marxian yang benar-benar memusatkan perhatian pada sejarah. Riset historisris Marx paling terkenal adalah formasi ekonomi prakapitalis (1857-1858/ 1964). karya yang merefleksikan orientasi historis, karya Immanuel Wallerstein (1974,1980, 1989,1992,1995; Chase-Dunn, 2001) tentang sistem dunia modern.
Sistem Dunia Modern
Wallerstein memilih unit analisis tak seperti yang digunakan oleh kebanyakan pemikir Marxian. Ia tak memperhatikan pekerja, kelas atau bahkan negara karena ia melihat sebagian besar variabel tersebut terlalu sempit untuk tujuan analisisnya. Sebaliknya, ia memusatkan perhatian pada kesatuan ekonomi luas dengan pembagian kerja yang tak dibatasi oleh batasan politik atau kultural. Ia menemukan bahwa unit dalam konsep sistem dunianya itu sebagian besar adalah sosial yang memenuhi kebutuhan sendiri dengan batas dan jangka hidup yang dapat ditetapkan; artinya sistem sosial itu tak kekal selamanya.
Sistem itu secara internal tersusun dari berbagai jenis struktur sosial dan kelompok-kelompok yang menjadi anggotanya. Menurut wallerstein sistem itu dipersatukan bersama oleh berbagai jenis kekuatan yang mengandung ketegangan di dalamnya. Kekuatan ini selalu berpotensi untuk merobek sistem sehingga terpecah-pecah. Wallerstein menyatakan bahwa sejauh ini kita hanya mempunyai dua tipe sistem dunia. Pertama adalah kekaisaran dunia, contohnya kekaisaran Romawi kuno. Kedua, adalah sistem ekonomi dunia kapitalis modern. Kekaisaran dunia berdasarkan dominasi politik (dan militer) sedangkan sistem ekonomi dunia kapitalis bersandarkan pada dominasi ekonomi. Ekonomi dunia kapitalis dipandang lebih stabil ketimbang kekaisaran dunia karena beberapa alasan. Pertama, ekonomi dunia kapitalis mempunyai basis lebih luas, karena meliputi banyak negara. Kedua, mempunyai proses stabilisasi ekonomi yang terpasang permanen. Masingmasing kesatuan politik di dalam ekonomi dunia kapitalis menyerap apa pun kerugian yang terjadi, sedangkan keuntungan ekonomi didistribusikan ke tangan privat. Wallerstein meramalkan kemungkinan munculnya sistem dunia ketiga, sebuah pemerintahan dunia sosialis. Sementara sistem ekonomi kapitalis memisahkan politik dari sektor ekonomi, ekonomi dunia sosialis akan menyatukannya kembali.
F.     Teori past marxis
Sepanjang berjalanya teori-teori Marxist ini dipahami dan digunakan untuk malukan perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk perlawan-perlawan yang dilakukan oleh kelas proletar terhadap kelas borjuasi untuk merebut alat produksi dan nilai lebih tadi sampai pada tindakan merebutkan kekuasaan Negara yang tidak hanya alat produksi saja.
Dalam konteks ini muncul tanda tanya yang semakin besar dan semakin terfokus arahnya pada keseluruhan cara memahami sosialisme dan jalan yang harus ditempuh olehnya. Hal inilah yang mendorong munculnya kembali pemikiran kritis-pemikiran kritis yang bersifat menggerogoti namun memang tak bisa dielakkan terhadap basis teoritis dan polirik yang menjadi fondasi dari bangunan horizon intelektual kiri yang tradisional. Serangkaian fenomena baru yang merupakan dasar terjadinya mutasi itu, juga munculkan desakan yang semakin kuat untuk melakukan penilaian ulang secara teoritis. Fenomena baru itu seperti misalnya gerakan feminism baru, gerakan-gerakan protes yang bersifat etnik, nasional dan minoritas gender, perjuangan ekologi anti-sistem yang dilakukan oleh lapis-lapis masyarakat yang termarjinalkan, gerakan anti senjata nuklir, bentuk-bentuk ganjil dari perjuangan sosial di Negara-negara periferi kapitalis. Fenomena-fenomena baru itu mengimplikasikan terjadinya gerak perluasan konflik sosial ke wilayah yang semakin luas sehingga menciptakan potensi, namun hanya sebatas potensi, bagi terciptanya sebuah gerak kemajuan kea rah masyarakat-masyarakat yang semakin lebih bebas, demokratis dan egalitarian.

Daftar Pustaka

Plekanov, Masalah-Masalah Dasar Marxisme. Jakarta: 2002 Penerjemah: Ira Iramanto
Magnis-Suseno, Frans. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia. 1999.
Magnis-Suseno, Frans. Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Gramedia. 2003
Suhelmi, Ahmad. Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Mayarakat dan Kekuasaan. Jakarta: PT. Gramedia. 2001
Ernesto Laclau and Chantal Mouffe, Hegemoni dan Strategi Sosialis: Postmarxisme+Gerakan Sosial Baru. Yogyakarta: Versi, 2008 Penerjemah: Eko Prasetya Darmawan
Plekanov, Masalah-Masalah Dasar Marxisme. Jakarta: 2002 Penerjemah: Ira Iramanto.
Read More ->>

TEORI KRITIK MARXIAN



A.    Kritik Marxian
Strategi konflik Marxian, memandang masyarakat sebagai kebutuhan dan keinginannya. Konflik dan pertentangan menimbulkan dominasi dan subordinasi. Kelompok yang dominan memanfaatkan kekuasaan mereka untuk menentukan struktur masyarakat sehingga menguntungkan bagi kelompok mereka sendiri.
Asumsi yang mendasari teori sosial non Marxian Dahrendorf adalah (1) manusia sebagai Makhluk sosial mempunyai andil dalam terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial, (2) Masyarakat selalu dalam keadaan konflik menuju proses perubahan. Masyarakat dalam berkelompok dan hubungan sosial didasarkan atas dasar dominasi (borjuasi) yang menguasai proletar. Karena tidak adanya pemisahan antara pemilikan dan pengendalian sarana-sarana produksi.
Ia mengkritk teori Marx dengan alasan : (1) Lemahnya dalam konseptualnya dengan mencampuradukkan konflik kelas sebagai perubahan dengan masyarakat kapitalis, (2) pendapat Marx tetang hak milik dalam arti sempit, (3) kapitalisme yang diterangkan Marx mengalami transformasi bukan evolusi, (4) keadaan kapitalisme hanyalah salah satu subtype masyarakat industri pasca industri, dan (5) konflik kelas memuncak karena melibatkan faktor ekonomi dan politik. Fenomena sosial yang dijelaskan meliputi : (1) konflik atau dominasi dalam hal ekonomi dan politik, (2) konflik tidak bisa dihilangkan atau diselesaikan, tetapi hanya bisa diatur, (3) proses konflik dapat dilihat dari intensitas dan sarana (kekarasan). Fungsi konflik menurut Dahendorf adalah (1) membantu membersihkan suasana yang sedang kacau, (2) katub penyelamat ( proses / salah satu sikap serta ide) yang berfungsi dalam permusuhan, (3) keagrsifan dalam konflik yang realitas (dalam kekecewaan) dan konflik tidak realitas (dalam kebutuhan untuk meredakan ketegangan) mungkin terakumulasi dalam proses interaksi lain sebelum ketengangan dalam situasi konflik diredakan, (4) konflik tidak selalu berakhir dengan rasa permusuhan, (5) konflik dapat dipakai sebagai indicator kekuatan dan stabilitas suatu hubungan, dan (6) konflik dengan berbagai Outgruop dapat memperkuat kohesi (hubungan atau kerjasama) internal suatu kelompok.
Dahrendorf melihat yang terlibat konflik adalah kelompok semu yaitu para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang sama yang terbentuk karena munculnya kelompok kepentingan. Sedangkan kelompok kedua adalah kelompok kepntingan, yang terdiri dari kelompok semu yang lebih luas. Kelompok kepentingan ini mempunyai strujtur, organisasi, program, tujuan serta anggota yang jelas. Kelompok kepentingan inilah yang menjadi sumber nyata timbulnya konflik dalam masyarakat. Seperti halnya consensus dan konflik adalah sebuah realitas sosial. Menurut Marx “kepentingan” selalu dipandang dari segi materialnya saja tetapi sebenarnya menurut dahrendorf “kepentingan” selalu memiliki suatu harapan-harapan. Dalam memegang peran penguasa seseorang tersebut akan bertindak demi keuntungan organisasi sebagai suatu keseluruhan dan dalam kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan. Dahrendorf melihat masyarakat berisi ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerjasama, sehingga segala sesuatunya dapat dianalisa dengan fungsionalisme struktual dan dapat pula dengan konflik. Harapannya bersama Coser, agar perspektif konflik dapat digunakan dalam rangka memahami dengan lebih baik fenomena sosial. Sebalikmya, Durkheim cenderung, meihat konflik yang berlebihan sebagai sesuatu yang tidak normal dalam integrasi masyarakat. Simmel juga berasumsi bahwa konflik dan ketegangan adalah sesuatu yang “abnormal” atau keduanya merusakkan persatuan kelompok, merupakan suatu perspektif yang penuh bias yang tidak didukung oleh kenyataan.
Dahrendorf dalam mejelaskan konflik berpindah dari struktur peran kepada tingkah laku peran. Tetapi keduanya tidak bisa berjalan bersama-sama dalam bentuk hubungan sebaba-akibat. Karena keduanya tidak dipisahkan secara jelas sebagai fenomena yang berbeda. Masing-masing tergantung pada yang lain tanpa melakukan penjelasan satu sama lain.

B.     Perkembangan Dalam Teori Marxian
Perkembangan Teori Marxian terjadi sejak awal tahun 1900-an sampai dengan tahun 1930-an terlepas dari teori sosiologi arus utama. Dari sini paling-paling yang dapat di kecualikan adalah munculnya majhab Kritis, atau majhab Frankfurt dari Marxian Hengelian awal. Gagasan pendirinya sebuah mazhab yang bertujuan mengembangkan teori Marxian lahir dari Felix J. Weil Institute bertahun-tahun sejumlah pemikir ternama dalam teori Marxian bergabung dengan majhab kri-Max Horkheimer, Theodor, Erich Fromm, Herbert Marcuse, dan yang terbaru juga jurgen habermas.
Intitut ini berjalanm di jerman sampai dengan tahun 1934, namun kemudian mereka semakin merasa tidak nyaman berada di bawah kekuasaan rezim Nazi. Nazi tidak banyak mengunakan gagasan Marx yang mendominasi institute ini, dan kebencian mereka memuncak karena yang bergabung dengan institute ini kebanyakan orang rohani. ( yahudi editor ).
C.    Bangkit dan Merosotnya Sosiologi Marxian
Akhir tahun 1960-an adalah titik ketika teori Marxian akhirnya mulai melakukan serangan signifikan terhadap teori sosiologi Amerika ( Cerullo, 1994 ) semakin banyak sosiologi beralih pada karya asli marx, maupun karya para Marxian, untuk mencari pandangan yang bermanfaat bagi perkembangan sosiologi Marxian. Mula-mula hal ini banyak berarti bahwa para teoritisi ahkirnya membaca Marx secara serius, namun belakangan muncul kajian-kajian Marxian penting yang di lakukan oleh para sosiologi Amerika. Yang sangat penting adalah perkembangan sosiologi Amerika yang di kerjakan dalam sudud pandang Marxian yaitu kelompok yang mengerjakan sosiologi historis dan sosiologi ekonomi dan ada aliran lain yang mengerjakan sosiologi empiris tradisional, Namun  seiring dengan runtuhnya Uni Soviet dan jatuhnya Rezim-rezim Marxis di seluruh dunia. Teori marsian mengalami saat-saat sulit pada tahun 1990-an.
ANALISIS KRITIS
Dalam teori Marxian mengatakan bahwa, strategi konflik Marxian, memandang masyarakat sebagai kebutuhan dan keinginannya. Konflik dan pertentangan menimbulkan dominasi dan subordinasi. Kelompok yang dominan memanfaatkan kekuasaan mereka untuk menentukan struktur masyarakat sehingga menguntungkan bagi kelompok mereka sendiri. Teori kritik tersebut jika dilihat pada zaman sekarang terdapat kemiripan. Yaitu dimana politik di negeri ini kita ketahui bahwa ketika ada pemilihan calon legislatif para partai politik saling berlomba-lomba untuk memperoleh kursi di DPR yang diperuntukkan agar visi dan misi partai tercapai, sehingga partai yang kuat di parlemen lebih berkuasa dalam voting ketika membuat suatu kebijakan.

DAFTAR PUSTAKA
McGraw, Hill. Teori Sosiologi Modern — Edisi Keenam. Jakarta: Kencana. 2004.

Soekanto, Soerjono. SOSIOLOGI — Suatu Pengantar. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia. 1970.
Read More ->>

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN



1.    Judul
Analisis Implementasi PBB Pedesaan dan Perkotaan dan PDRD tentang Retribusi Terminal Kabupaten XXX.
2.    Latar belakang
Dalam melaksanakan perkuliahan, Universitas XXX, Jurusan Akuntansi Sektor Publik, mata kuliah PPN, PPnBM, Pajak Daerah, Dosen Pengajar memberikan tugas mengenai materi perkuliahan untuk  menganalisis Implementasi PBB (Pajak Bumi Bangunan) dan PDRD (Pajak Daerah dan Retribusi Daerah) di Kabupaten asal daerah mahasiswanya masing-masing, sehingga kelompok kami mendapatkan tugas untuk menganalisis PBB Pedesaan dan Perkotaan dan PDRD di daerah Bangkalan karena sebagian besar anggota kelompok kami berasal dari kabupaten XXX. Sehingga terpilihlah analisis implementasi PBB di Desa Blega Kecamatan Blega dan analisis Implementasi Retribusi Terminal Kabupaten XXX.
Pelaksanaan tugas ini berupaya mendukung dan menunjang pemahaman materi serta pengetahuan dalam praktek dan implementasi di lapangan sesuai dengan  program studi yang di ambil dan khususnya perkuliahan yang sedang ditempuh.
3.    Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dari proposal ini adalah
1.      Bagaimana Implementasi PBB Pedesaan dan Perkotaan di Desa XXX Kecamatan XXX Kabupaten XXX?
2.      Bagaimana Implementasi PDRD tentang Retribusi Terminal di Kabupaten XXX?

4.    Tujuan
Untuk mengetahui Implementasi PBB Pedesaan dan Perkotaan di Desa XXX Kecamatan XXX dan Implementasi PDRD tentang Retribusi Terminal di kabupaten XXX.

5.    Manfaat
Adapun manfaat dari Analisis ini adalah untuk terselesainya tugas yang diberikan dosen pengampu serta menambah wawasan dan pengetahuan kami mengenai Implementasi PBB Pedesaan dan Perkotaan dan PDRD khususnya Retribusi Terminal di Kabupaten XXX.

6.    Lokasi  Dan Waktu
Lokasi : Desa XXX Kecamatan XXX (PBB Pedesaan dan Perkotaan) dan DISHUBKOMINFO (PDRD Tentang Retribusi Terminal)
Waktu :  16 Mei – 10 Juni 2014
7.      Data dan Dokumen yang dibutuhkan
·         PERDA PBB Pedesaan dan Perkotaan
·         PERDA PDRD tentang Retribusi Terminal
·         Realisasi PDRD tentang Retribusi Terminal yang masuk di akun PAD ataupun Bagi Hasil
·         Literatur dan informasi lain yang terkait

8.      Penutup
Demikian proposal ini kami buat dengan harapan kami dapat memperoleh apa yang menjadi tujuan kami. Penulis menyadari, bahwa proposal ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mohon saran dan kritik dari Bapak/Ibu. Demikian proposal ini penulis ajukan. Atas perhatian, dukungan, persetujuan dan kerjasamanya penulis mengucapkan banyak terimakasih. Dan semoga kerjasama yang telah terjalin dapat terus dipertahankan.



LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian : Analisis Implementasi PBB Pedesaan dan Perkotaan dan PDRD tentang Retribusi Terminal Kabupaten XXX.
Jenis Penelitian    :  Kelompok
Nama Peneliti      :
1.      Noer Panca Mutawwab   (120241100008)
2.      Andi Risky                      (110241100011)
3.      Bagus Palgunadi             (120241100003)
4.      Nova Farahdiba               (120241100017)
5.      Rudi Hariyanto               (120241100029)

Lokasi                  : 1. Desa XXX Kecamatan XXX (PBB Pedesaan dan Perkotaan)
2. DISHUBKOMINFO (PDRD Tentang Retribusi Terminal)
Waktu                  :  16 Mei – 10 Juni 2014

Proposal ini telah disetujui oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah untuk melakukan penelitian.

Bangkalan, 14 Mei 2014
Dosen Pengampu

TTD
 
NAMA 
NIP.
Read More ->>
Diberdayakan oleh Blogger.
animasi bergerak gif
animasi bergerak gif