4/11/2014

“TEORI KRITIK MAX WEBER”



    A.  Metodologi
Menurut Max Weber, sosiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan pemahaman interpretative dimaksudkan agar dalam menganalisis dan mendeskripsikan masyarakat tidak sekedar yang tampak saja, melainkan dibutuhkan interpretasi agar penjelasan tentang individu dan masyarakat tidak keliru. Weber merasa bahwa sosiolog  memiliki kelebihan daripada ilmuwan alam. Kelebihan tersebut terletak pada kemampuan sosiolog untuk memahami fenomena sosial, sementara ilmuwan alam tidak dapat memperoleh pemahaman serupa tentang perilaku atom dan ikatan kimia. Pemikiran Weber tentang verstehen (Sosiologi Interpretatif) lebih sering ditemukan di kalangan sejarawan Jerman pada zamannya dan berasal dari bidang yang dikenal dengan hermeneutika ( Martin, 2000;Pressler dan Dasilva, 1996). 
Hermeneutika adalah pendekatan khusus terhadap pemahaman dan penafsiran tulisan-tulisan yang dipublikasikan. Tujuannya adalah memahami pemikiran pengarang maupun struktur dasar teks. Weber dan lainnya berusaha memperluas gagasannya dari pemahaman teks kepada pemahaman kehidupan sosial : memahami aktor, interaksi, dan seluruh sejarah manusia. Satu kesalahpahaman yang sering terjadi menyangkut konsep verstehen  adalah bahwa dia dipahami sekedar sebagai penggunaan “intuisi”, irasional, dan subyektif. Namun secara kategoris Weber menolak gagasan bahwa verstehen hanya melibatkan intuisi, keterlibatan berdasarkan simpati, atau empati. Baginya, verstehen melibatkan penelitian sistematis dan ketat dan bukannya hanya sekedar merasakan teks atau fenomena sosial.
Bagi Weber verstehen adalah prosedur studi yang rasional. Sejumlah orang menafsirkan verstehen, pernyataan-pernyataan Weber, tampaknya terbukti kuat dari sisi penafsiran level individu terhadap verstehen. Namun sejumlah orang juga menafsirkan bahwa verstehen yang dinyatakan oleh Weber adalah sebagai teknik yang bertujuan untuk memahami kebudayaan. Seiring dengan hal tersebut, W.G. Runciman (1972) dan Murray Weax (1967) melihat verstehen sebagai alat untuk mempelajari kebudayaan dan bahasa tertentu (M. Siahaan, 1986).
 
    B. Sosiologi Substantif
Max Weber berpendapat bahwa Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari pemahaman interpretasi dari tindakan sosial serta penjelasan eksplanatif dari praktek dan konsekuensinya. Tujuan yang ingin dicapai Max Weber, pertama ia ingin agar ilmu sosial dapat memahami keunikan dari karakter masyarakat barat yang modern. Kedua, Weber ingin mengkonstruksi konsep abstrak yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan, memberikan pengertian terhadap masyarakat modern.
Max Weber Berkata bahwa Sosiologi bukanlah ilmu moral, karena itu tidak dapat mengidentifikasi secara ilmiah norma yang tepat, nilai, dan tindakan. Sosiologi juga berperan dalam meningkatkan perkembangan kehidupan sosial dari manusia melalui proses rasionalisasi, dimana sosiologi yang bebas nilai berkontribusi terhadap penjelasan terhadap proses historis dan kejadian dimana keajaiban dan kepercayaan irasional lainnya digunakan untuk menjelaskan suatu peristiwa menjadi tidak diterima oleh masyarakat. Karena itu sosiologi juga berperan dalam menyediakan informasi kepada setiap orang dalam mengambil keputusan. Weber juga berargumentasi bahwa ilmu sosial berbeda dengan ilmu alam karena aspek esensialnya adalah “penjelasan kausal dari suatu konsekuen.”
Tipe ideal klasifikasi dapat dimaksudkan pengelompokkan/ klasifikasi dari tindakan sosial yang dilakukan hampir setiap individu.
1.      Tindakan rasional instrumental, dimana seseorang biasanya secara sistematis menggunakan pengetahuannya sebagai suatu ‘means’ untuk mendapatkan hasil yang sudah dikalkulasikan dari aktor tersebut.
contohnya : dalam suatu organisasi setiap indivdu yang menempati satu bagian pada kepengurusan, maka individu tersebut akan berperan sesuai fungsinya tersebut.
2.      Tindakan rasional nilai, tindakan berdasarkan orientasi nilai tidak mementingkan pada kemungkinan sukses, tindakan ini didalamnya berlaku perintah dan permintaan.
contohya : seseorang yang rajin pergi ke Gereja untuk mengikuti misa agar mendapatkan ketenangan batin.
3.      Tindakan tradisional, dimana tindakan ini dalam konteks sosial, kepercayaan dan nilai yang sudah mapan dalam suatu masyarakat, maka individu didalamnya tidak mempunyai banyak pilihan untuk bertindak dan menjadi makhluk dari struktur normatif yang terikat kepada kestabilan dan kekohesivan kelompok.
contohnya : seseorang yang bersuku bangsa Jawa dan tinggal di Jawa sejak kecil, maka bagi dia etika Jawa sudah menjadi kebiasaan,ketika ia pergi ketempat lain yang tidak menganut kebudayaan Jawa, tapi individu tersebut tetap menerapkan kebudayaan Jawa sebagai suatu kebiasaan.
4.      adalah afeksi, dimana perilaku dideterminasi oleh emosi individu kepada situasi yang diberikan.
misalnya : seorang ibu yang menyelamatkan anaknya ketika ia mengetahui anaknya terjebak dalam kebakaran tanpa memperhatikan keselamatan diri sendiri.
Substansi lainnya yang terformalkan dari otoritas rasional legal adalah birokrasi. Menrut Weber, birokrasi merupakan wujud dari rasionalisasi manusia untuk mempermudah hidupnya karena menurut dia birokrasi yang ada pada saat itu tidak efisien, dan menghabiskan waktu. Birokrasi tersebut mempunyai beberapa karakteristik dan tipe ideal – pembagian kerja, spesialisai, hirarki otoritas, peraturan formal, impersonal, dan juga objektif -.Kebutuhan akan perangkat yang mempermudah kehidupan manusia ini juga merupakan hasil dari proses rasionalitas, yang mana intinya adalah efisiensi dan efektifitas, dan dimaksudkan dengan adanya organisasi birokrasi yang ideal dapat mempermudah manusia dalam kehidupan sehari-hari. Administrasi birokrasi secara esensial termasuk naplikasi rutin dari peraturan umum ke kasus spesifik yang dilaksanakan anggotanya melalui tindakan dan kapasitas dengan menggunakan otoritas dan sumber lainnya yang secara spesifik dialokasikan untuk suatu tujuan.

C.    Kritik Atas Teori Kritik Max Weber
Kritik terhadap konsep birokrasi Weber muncul dari R. V. Presthus. Presthus mengamati kecenderungan birokrasi di negara-negara non Barat. Presthus menganggap bahwa konsep birokrasi Weber belum tentu cocok bagi lingkungan non barat. Salah satu contohnya adalah ia menemukan bahwa pada industri batubara di Turki, dorongan-dorongan ekonomis dan material untuk melakukan usaha tidaklah seefektif dengan mereka yang mengusahakan hal yang sama di Barat. Pola perilaku masyarakat Turki dan pola perilaku masyarakat di Barat, terdapat perbedaan yang mendasar.
Teori  birokrasi  Weber  tepatnya  tipe  ideal birokrasi  memang  belum  tentu  cocok  untuk  diterapkan  di semua  negara. Karena  perilaku  setiap  warga negara  atau  birokrat  disetiap  negara  tentu  saja  berbeda. Karakter  ideal  Weber  cenderung  otoritatif, dan menurut  Weber  bahwa  birokrasi  itu  adalah  organisasi rasional yang dibentuk untuk memperlancar aktivitas pemerintahan, maka  birokrasi  Indonesia  jauh  dari  kesan  tersebut, bahkan  timbul  persepsi  negative  dari  masyarakat  bahwa  birokrasi  merupakan  prosedur  yang  rumit  dan  berbelit-belit  jauh  dari  kesan   organisasi  rasional.
Dalam  stuktur  karier  yang  Weber  kemukakan  dalam  karakteristik  ideal  birokarasi  menyatakan  bahwa  System  promosi  yang  didasrkan  pada  senioritas  atau  prestasi  atau  kedua-duanya. Weber  hanya  memaparkan  mengenai  idealnya  karateristik  suatu  birokrasi  tanpa  menyertakan  berbagai  kendala  yang  akan  di  hadapi  berserta  alternative  lainnya  yang  membuat  birokarasi  tetap  ideal  mengingat  akan  sulit  untuk  mencapai  semua  yang  dirumuskan  oleh  Weber.


ANALISIS KRITIS
Dalam pernyataan yang kemukakan oleh Max Weber kami kurang sepaham atas pernyataan yang mengatakan bahwa Sosiologi bukanlah ilmu moral, karena itu tidak dapat mengidentifikasi secara ilmiah norma yang tepat, nilai, dan tindakan. Sosiologi menurut kami merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan masyarakat dimana dari mempelajari kehidupan masyarakat itu sendiri kita dapat mempelajari karakter-karakter dari individual yang akan membuat kita bisa mendeskripsikan akan moralitas kehidupan masyarakat dari individual-individual di dalamnya.
Dalam mempelajari kehidupan masyarakat hal pendukung yang bisa menjadi penguat adalah sosiologi juga mempelajari Etika-etika dan prilaku masyarakat sehingga dapat dikaitkan pula dengan norma, nilai dan tindakan akan individual-individual dalam bermasyarakat. Dan Max Weber berargumen bahwa sosiologi tidak sama dengan ilmu alam, menurut kami ilmu sosiologi sama saja dengan ilmu alam karena dalam mempelajari kehidupan masyarakat sosiolog akan banyak menemui hal-hal tertentu atau bisa dikatakan pengalaman dan dari pengalaman dalam berinteraksinya dengan masyarakat dapat digunakan sebagai tambahan wawasan dalam mempelajari beberapa hal (karena berasal dari ilmu alam dan pengalamannya).

DAFTAR PUSTAKA

Irving M. Zeihin. 1995. Memahami Kembali Sosiologi, Kritik Terhadap Teori Sosiologi Kontemporer. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Erlangga.
Ritzer,George dan Douglas J. Goodman.m 2008.Teori Sosiologi Klasik . Yogyakarta:Kreasi Wacana.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
animasi bergerak gif
animasi bergerak gif